Banda Aceh – Dalam rangka mengisi kegiatan spiritual di bulan suci Ramadhan, keluarga besar Mahkamah Syar’iyah Aceh mengikuti Kajian Ramadhan yang disampaikan oleh Dr. Munir, S.H., M.Ag., Hakim Tinggi MS Aceh. Kajian ini mengangkat tema penting tentang bagaimana menjadikan bulan Ramadhan sebagai wahana untuk mendidik diri sendiri dan orang-orang terdekat agar menjadi pribadi yang muttaqin.
Dalam tausiyahnya, Dr. Munir menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum pendidikan ruhani (tarbiyah ruhiyah) yang membentuk karakter, mengasah kesabaran, serta melatih pengendalian diri. Puasa yang dijalankan dengan penuh keimanan dan keikhlasan akan melahirkan insan yang bertakwa, sebagaimana tujuan utama disyariatkannya puasa.
Mengacu pada Surah Ali Imran ayat 134-135, beliau menguraikan ciri-ciri orang muttaqin, yaitu:
- Gemar Berinfak dalam Keadaan Lapang maupun Sempit
Orang yang bertakwa tetap peduli dan berbagi, tidak bergantung pada kondisi kecukupan semata. - Mampu Menahan Amarah
Pengendalian emosi menjadi salah satu tanda kematangan spiritual dan akhlak seorang mukmin. - Memaafkan Kesalahan Orang Lain
Sikap pemaaf mencerminkan kelapangan hati dan keikhlasan dalam menjaga hubungan sosial. - Segera Mengingat Allah ketika Berbuat Salah
Jika tergelincir dalam dosa, mereka tidak berlarut-larut, tetapi segera bertaubat dan memohon ampunan. - Tidak Meneruskan Perbuatan Dosa
Kesadaran untuk berhenti dan tidak mengulangi kesalahan menjadi bukti ketakwaan yang nyata.
Dr. Munir menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut harus dimulai dari diri sendiri, kemudian ditanamkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Ramadhan adalah momentum strategis untuk membangun budaya kebaikan, memperbaiki akhlak, serta memperkuat integritas pribadi sebagai aparatur peradilan dan sebagai muslim.
Kajian ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh aparatur dan keluarga besar MS Aceh agar menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik, berintegritas, dan berorientasi pada nilai-nilai ketakwaan.
Intisari:
“Ramadhan adalah wahana pendidikan diri untuk melahirkan pribadi muttaqin yang gemar berinfak, mampu menahan amarah, pemaaf, serta segera bertaubat dan tidak mengulangi kesalahan.”
Website Resmi Mahkamah Syar'iyah Aceh