msaceh

Drs.Zulkarnain Lubis M.H : Filosofi Memberi Dalam Bekerja

Dilihat: 2856

Filosofi Memberi Dalam Bekerja

(Drs.Zulkarnain Lubis M.H./Ketua MS. Langsa)

Sebagai makhluk sosial manusia punya ketergantungan yang sangat erat terhadap orang lain untuk dapat menentukan masa depannya termasuk diantaranya  untuk mencari kebahagiaan hakikinya dengan cara beradaptasi dan berinteraksi dan melakukan hal-hal yang baik yang mempunyai nilai-nilai religiusitas. Salah satu kebahagiaan manusia diperoleh dengan selalu memberi kepada orang lain. Apapun bentuknya yang ada di dalam diri akan menjadi kebahagiaan jika memberikannya kepada orang lain. Untuk ini Allah bahkan menjanjikan akan menambah bagi orang yang memberi tidak akan pernah ada yang berkurang.

Allah sebagai sang khalik yang maha pemberi (al-Mu'thi) memberi tanpa pernah meminta balasan dari hambanya.  Bahkan sesuatu yang tak kita minta juga Dia beri atau  Allah menunda apa yang diminta makhluknya dan memberinya diwaktu yang lain disaat kita telah pantas menerimanya. Karena tuhan yang maha tahu segalanya  lebih tahu apa yang kita butuhkan dari pada diri kita sendiri.

Sifat dasar manusia dia akan bahagia jika dapat membahagiakan diri orang lain. Karena ada kepuasan batin dalam setiap pemberian. Sebaliknya semakin sedikit dia memberi akan semakin sedikit kebahagiaan dalam hatinya. Bagi orang yang selalu meminta tanpa memberi hanya akan membuat orang menjauh darinya. Memberi tak selalu harus dalam bentuk materi.

Penghargaan agama sangat tinggi terhadap pemberian, walaupun hanya sekedar memberikan senyuman sudah dikatakan sebagai shadaqah apalagi lebih tinggi nilainya dari itu seperti keramahan, kasih sayang, pemberian pencerahan ilmu, kebijaksanaan yang bagi seseorang, pelayanan kepada orang yang berkepentingan bisa lebih berarti dari pada pemberian dalam bentuk materi. Sayangnya manusia selalu terjebak dengan rasionalisasi  kebahagiaan itu dalam  ukuran materi.

Sepanjang sejarah kemanusiaan sifat memberi yang tulus, memberikan apa saja yang ia miliki baik materi maupun non materi, tanpa mengharapkan imbalan apapun bahkan terkadang justru menerima cacian cemoohan telah dipraktekkan oleh para nabi, orang-orang soleh, wali Allah, para filosof, para misionaris, biksu, relawan kemanusiaan dan lain sebagainya. Mereka telah memberikan segalanya bahkan jiwa raganya untuk kebahagiaan orang lain.

Pemberian sangat dianjurkan khususnya kepada orang-orang yang dekat dengan kita, kepada keluarga, sahabat, tetangga, teman sejawat, orang-orang yang miskin seperti fakir miskin, anak-anak yatim, janda-janda, orang musafir dan lain sebagainya. Karena muslim dengan muslim yang lainnya adalah ibarat satu tubuh atau satu bangunan.

Rasulullah adalah orang yang paling luar biasa dalam hal memberi beliau justru memberikan kebaikan kepada orang yang selalu mengganggu beliau dengan meludahinya. Dikisahkan  ada salah seorang tetangga beliau yang selalu menghina bahkan meludahi Rasulullah ketika beliau lewat di depan rumahnya dan itu sudah rutin ia lakukan setiap hari . Setiap Rasulullah lewat di depan rumahnya. Hingga suatu hari Rasulullah merasa aneh ketika melewati rumahnya . Beliau merasa aneh karena ia tidak mendapat 'Hadiah Ludah' seperti biasanya dari sang penghuni rumah. . 

Esok hari pun demikian, tidak ada 'Hadiah' yang beliau terima seperti biasanya. Karena rindu dengan hadiah itu Rasulullah mengunjungi Sang Penghuni Rumah dan menanyakan tentang kabarnya. Ternyata Ia sedang sakit.

Melihat kedatangan Rasulullah, sang penghuni rumah terharu sekali.  Ia terharu karena selama ia sakit tidak ada seorangpun yang mengunjunginya . Malah Rasulullah yang selama ini ia hina dan Ia sakiti hatinya . Namun malah beliaulah orang yang pertama kali menjenguknya dan memberi perhatian yang tulus kepadanya . Hingga akhirnya ia bersyahadat di hadapan Rasulullah.

Pada prinsipnya di alam ini Allah selalu bersikap adil bagi orang yang mencari kebahagiaan dengan memberi. Alam tidak akan menelan pemberian seseorang dan sirna begitu saja. Ada yang namanya hukum kekekalan energi, energi tidak dapat hilang demikian pula kebaikan akan berbuah kebaikan, apa yang kita berikan kepada alam akan berbalik kembali kepada kita. Keburukan akan berbuah keburukan. Sebesar apapun kebaikan yg kita beri  pada hakikatnya akan kembali kepada diri pemberi itu sendiri. Sebagaimana Allah janjikan walau sebesar biji zarrah sekalipun kebaikan akan tetap dihitung oleh Allah (QS. Al-Zalzalah: 7).

Filosofi memberi berbanding terbalik dangan filosofi meminta. Sikap yang hanya ingin meminta apalagi sampai kepada sikap bakhil menunjukkan kemiskinan diri karena orang seperti itu menunjukkan bahwa hati sudah terjebak kepada  batas-batas kebahagiaan itu hanyalah materi. Jika kemampuan memberi ada tetapi tidak dilakukan hanya semakin mengecilkan peluangnya untuk berbahagia.

Dalam al quran disebutkan "in ahsantu ahsantum lianfusikum wain asa'tu falaha (jika engkau berbuat kebaikan maka kebaikan itu utk dirimu sendiri jika engkau berbuat keburukan maka itu kembali juga kepada dirimu).

Jika kita memberi senyuman akan menerima senyuman, membenci akan dibenci, menghargai akan dihargai  dan jika kita bersikap lemah lembut pada orang lain kita juga akan menerima kelembutan dan kasih sayang dari orang. Alam akan memberi apa yang kita berikan.

Ada logika yang sepintas kelihatan masuk akal. Logika mengatakan dengan memberi milik kita akan berkurang dan sebaliknya dengan meminta milik kita akan bertambah. Keinginan memberi tidak ada kaitannya dengan banyaknya harta. Ada yang kaya raya tapi sulit memberi. Karena bagi mereka mengatakan "kapan mau kaya nya kalau banyak memberi".

Sebaliknya orang yang sederhana tetapi senantiasa mau berbagi dengan orang lain. Merekalah orang yang kaya. Karena sebenarnya yang membuat kita kaya bukanlah seberapa banyak harta yang kita miliki tetapi seberapa banyak yg kita berikan pada orang lain. Kahlil Gibran mengatakan “bila engkau memberi dari hartamu tiada banyaklah pemberian itu tapi bila engkau memberi dari dirimu itulah sebenarnya pemberian yang penuh arti”.

Banyak orang yang sulit memberi karena mereka tak pernah belajar kehidupan. Padahal hakikat hidup adalah memberi. Allah sebagai sumber kehidupan adalah sang maha pemberi. Tuhan telah memberi tanpa pilih kasih  tak peduli kita baik atau jahat  inilah kasih tuhan yg tanpa syarat (unconditional love).

Filosofi memberi baik untuk disosialisasikan di dalam bekerja. Idealnya untuk mencapai hasil kerja yang baik setiap Karyawan bekerja bukan karena dipaksa oleh aturan atau SOP yg telah ditetapkan atasan, bukan karena ingin mendapatkan pujian, bukan karena  memenuhi Job Discription, tetapi karena keinginan selalu memberi yang terbaik  dengan memberi pelayanan yang tulus dan ikhlas kepada semua pihak yang berkepentingan demi untuk mencapai tujuan dan target yang sudah dicanangkan.

Sudah menjadi kenyataan ternyata gaji yang besar, gedung kantor yang megah dengan prototype terbaru dan pendidikan yang tinggi para pegawai  tidak menjadi jaminan akan memberikan yang terbaik untuk kemajuan dan kebaikan. Ketidaksungguhan bekerja, tidak professional dan kurang bertanggung jawab merupakan indikator tidak adanya keikhlasan dalam bekerja, tidak adanya keikhlasan memberikan yang terbaik untuk kemajuan sebuah kantor.

Sebagai pimpinan juga harusnya selalu memberi perhatian, bimbingan dan keperdulian kepada bawahan tanpa berharap pujian dari bawahan. Pemberian dalam bentuk ini justru lebih disenangi oleh bawahan daripada pemberian materi. Sinergi pimpinan dan bawahan seperti di atas dapat dipastikan akan mendapatkan banyak sekali kemajuan yang dapat dicapai.

Banyaknya kasus-kasus korupsi yang menjerat para pejabat dan penguasa merupakan cermin parahnya pandangan dan filsofi hidup para pejabat zaman ini. Sikap aji mumpung merupakan cerminan prilaku tidak suka memberi tetapi bagaimana untuk sebanyak mungkin mendapatkan keuntungan material. Mental atasan yang terlalu ingin dilayani atau apa yg diistilahkan dengan sikap bossy, bagamaina mendapatkan keuntungan sebesar besarnya secara materi selama menjabat adalah sikap yang bertentangan dengan filsofi memberi. Sikap seperti itu akan menjerumuskan kepada banyaknya korupsi.

Sebagai manusia tentu kita tak ada yang sesempurna Allah dan RasulNya yang sanggup memberi tanpa berharap kembali bahkan kepada orang yang melukai hatinya. Kata Rasul “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain”. Semoga kita bisa. Amin.

HUBUNGI KAMI

Mahkamah Syar'iyah Aceh

Jl. T. Nyak Arief, Komplek Keistimewaan Aceh

Telp: 0651-7555976
Fax: 0651-7555977

Email :

ms.aceh@gmail.com

hukum.msaceh@gmail.com

kepegawaianmsaceh@gmail.com

jinayat.msaceh@gmail.com

LOKASI KANTOR

Mahkamah Syar'iyah Aceh © 2019