msaceh

Drs. Indra Suhardi, M.Ag : Amalan Puasa dan Cerita Alqamah

Dilihat: 2629

Amalan Puasa dan Cerita Alqamah

(sebagai sebuah Intropeksi diri)

Oleh : Drs. Indra Suhardi, M.Ag.

Ibadah puasa sangat menarik untuk terus  dikaji dan apalagi untuk diamalkan dalam kehidupan nyata. Banyak sekali nilai dan hikmah yang dikandungnya, tinggi sekali ruh ta’abbdudinya, dan dahsyat sekali manfaat yang diberikan bagi kesehatan bagi yang  menjalaninya “Maha Suci Allah”. Pantas saja dalam sejarah para Nabi ada Nabi yang berpuasa secara rutin yaitu berpuasa satu hari dan berbuka satu hari sepanjang masa seperti Nabi  Daud AS. , Nabi Musa AS berpuasa selama 40 hari, dan Nabi Muhammad Saw. manusia taat yang sangat manusiawi juga sangat perhatian melaksanakan puasa sunat setiap hari senin dan hari kamis, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah dan Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhum. Usamah pernah bertanya kepada beliau Saw. Tentang rahasia di balik puasa Senin dan Kamis ini, beliau bersabda: “Dua hari ini adalah har-hari ketika amal-amal dibeberkan di hadapan Tuhan Semesta alam dan saya ingin ketika amal saya dibeberkan, saya dalam keadaan berpuasa”.

Puasa Ramadhan sebagai sebuah ajaran pokok dalam agama Islam yang difardhukan atas orang-orang yang beriman sebagaimana disebutkan dasarnya dalam surat al-baqarah ayat 183 diberi ganjaran bagi yang melaksanakannya secara berlipat ganda,  dengan pahala 10 kali hingga 700 kali dan segala dosa kesalahan mendapat ampunan, bahkan lelahnya seorang yang sedang berpuasa lalu tertidur, tidurnya itu pun di nilai sebagai berpahala. Sedangkan sengaja tidur atau tidur - tiduran dari pagi hingga sore hari dan bermalas-malasan dengan maksud untuk menghindari beratnya berpuasa ramadhan  tentu bukan tidur atau aktifitas yang seperti itu yang dimaksudkan dalam konteks ini.   DR. Yusuf Qaradhawi menjelaskan menyangkut hikmah dan maslahat yang dikandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

1.     Tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa);

2.     Menyehatkan badan;

3.     Pendidikan bagi iradah (kemauan), jihad bagi jiwa, pembiasaan kesabaran, pemberontakan terhadap kebiasaan yang sudah melekat;

4.     Mematahkan gelora syahwat yang mengarah kepada negative;

5.     Menyadari semua nikmat berasal dari Allah Swt.

6.     Melahirkan rasa solider/Hikmah Ijtima’iyah;

7.     Melahirkan manusia Taqwa.

Itulah garis besar (pokok) hikmah dan maslahat ibadah puasa dan masih beribu hikmah lagi kandungannya tentu sesuai sudut pandang kita mengkajinya. Namun satu hal yang perlu diingat, bahwa semua amal baik apakah itu puasa, zakat, solat, dan bersedekah terkadang menjadi sia-sia, bila seseorang yang mempunyai orang tua tetapi ia durhaka atau mengabaikannya dalam hidup ini. Kedudukan orang tua punya tempat yang mulia dalam ajaran Islam. Seorang anak harus penuh baktinya (birrul walidain) kepada orang tuanya, tidak boleh melukai perasaannya apalagi durhaka, berkata dengan perkataan yang mulia kepadanya. Seandainya seorang muslim rajin berpuasa, tidak pernah tinggal melaksanakan solat, berzakat dan lain sebagainya tetapi di sisi lain ia durhaka kepada orang tuanya, hidupnya tiada berguna dan segala amalnya akan sia-sia belaka.

Dikisahkan, pada masa Rasul Saw. Ada seorang pemuda bernama Alqamah, ia rajin solat, banyak berpuasa dan suka bersedekah. Suatu ketika ia sakit yang tak kunjung sembuh. Karena itu, isterinya mengirim utusan kepada Rasulullah untuk memberitahukan keadaan Alqamah yang kritis. Rasul pun akhirnya mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar-Rumi, dan Bilal bin Rabah untuk melihat kondisi Alqamah. “Pergilah ke rumah Alqamah dan talqin-lah untuk mengucapkan La Ilaha Illallah!” perintah Rasulullah. Akhirnya mereka berangkat. Ternyata saat itu Alqamah dalam keadaan sakaratul maut. Mereka lantas mentalqin-nya, tetapi lisan Alqamah tak bisa mengucapkan La ilaha Illallah. Mereka terkejut dan bergegas melaporkan kejadian ini kepada baginda Rasul Saw. Rasulullah pun bertanya, “Apakah ia masih mempunyai kedua orang tua?” “ada, Wahai Rasulullah. Ia masih mempunyai seorang ibu yang sudah tua renta.” Rasulullah lalu mengirim utusan dengan berpesan, “Katakan pada ibunya Alqamah, jika ia masih mampu berjalan menemui Rasulullah maka datanglah. Namun kalau tidak, biarlah Rasulullah yang datang menemuinya.”

Tatkala utusan itu menyampaikan pesan Rasulullah, ia lantas berkata,” Saya lah yang lebih berhak mendatangi Rasulullah.” Kemudian Ibu Alqmamah pergi menemui Rasulullah. Rasulullah berkata, “ Wahai ibu Alqamah, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Sebab jika engkau berbohong, maka akan datang wahyu dari Allah yang akan memberitahukan kepadaku. Sebenarnya bagaimana keadaan putramu Alqamah ? sang ibu menjawab, “Wahai Rasulullah, Ia rajin solat, sering berpuasa, dan gemar bersedekah.” Lalu apa perasaanmu padanya ?” “saya kesal kepadanya, Wahai Rasulullah.” Kenapa ?”  “Ya Rasulullah, Alqamah telah mengutamakan isterinya dibandingkan saya. Ia durhaka kepadaku.”

Rasulullah berkata, “Sesungguhnya kemarahan ibunya telah menghalangi lisan Alqamah untuk mengucapkan syahadat. Wahai Bilal, kumpulkan kayu bakar yang banyak.”

Wahai Rasulullah, apa yang hendak engkau lakukan ? “saya akan membakarnya dihadapanmu.” Wahai Rasulullah, saya tidak ingin engkau membakar anakku.”

Rasulullah menjelaskan, “Wahai ibu Alqamah, sesungguhnya azab Allah lebih pedih dan lebih langgeng. Kalau engkau ingin Allah mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqamah. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya solat, puasa dan sedekahnya Alqamah tak akan memberinya manfaat sedikit pun selagi engkau marah kepadanya.”

Iba dengan dengan nasib yang bakal menimpa anaknya, akhirnya hati ibu Alqamah luluh. Ia lantas berkata, “Wahai Rasulullah, Allah sebagai saksi, juga para Malaikat dan kaum muslimin yang hadir saat ini, bahwa saya telah rida pada anakku Alqamah.”

Rasulullah berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, temuilah Alqamah kembali dan lihatlah kondisinya, apakah ia sudah bisa mengucapkan syahadat. Barangkali ibu Alqamah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari hatinya. Barangkali ia hanya malu kepadaku.”

Bilal pun berangkat, ternyata dari dalam rumah ia mendengar Alqamah telah mengucapkan La ilaha Illallah. Bilal lalu masuk dan berkata, “saudara-saudara sekalian, sesungguhnya kemarahan ibu Alqamah telah menghalangi lisannya sehingga tak bisa mengucapkan syahadat, tetapi rida ibunya telah membuat Alqamah mampu mengucapkan syahadat.”

Kemudian, Alqamah pun wafat saat itu juga. Rasulullah memerintahkan agar ia dimandikan lalau dikafani. Setelah itu, Rasulullah dan para sahabat mensolatkan dan menguburkannya. Usai memakamkan jenazah Alqamah, Rasulullah bersabda, “Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshar, siapa yang lebih mengutamakan isterinya dari pada ibunya, ia akan mendapatkan laknat dari Allah, para Malaikat, dan sekalian manusia. Allah tidak akan menrima amalannya, kecuali ia bertaubat dan berbuat baik pada ibunya serta meminta ridanya. Sebab, rida Allah tergantung pada ridanya dan murka Allah tergantung pada murkanya.”

Semoga kisah di atas di atas dapat lebih mempertajam mata hati kita untuk terus menemukan hikmah-hikmat terdalam dalam bingkai puasa ramadhan dan semoga kita semua sebagai hamba yang dhaif di sisi Nya terus berupaya semaksimal mungkin untuk berbakti kepada kedua orang tua kita masing-masing. Kita ada karena mereka, tanpa mereka kita tiada illa nabi Isa alahi sholatu wassalam. Wallahu a’lam.

HUBUNGI KAMI

Mahkamah Syar'iyah Aceh

Jl. T. Nyak Arief, Komplek Keistimewaan Aceh

Telp: 0651-7555976
Fax: 0651-7555977

Email :

ms.aceh@gmail.com

hukum.msaceh@gmail.com

kepegawaianmsaceh@gmail.com

jinayat.msaceh@gmail.com

LOKASI KANTOR

Mahkamah Syar'iyah Aceh © 2019