msaceh

Berita

Berita (1042)

Ceramah pada MS Aceh : Indahnya Berbagi di Bulan Ramadhan | (16/7)

Banda Aceh | ms-aceh.go.id

Memasuki hari keenam pada minggu kedua bulan suci Ramadhan 1434 H yang bertindak sebagai penceramah ba’da shalat Zuhur pada kegiatan Ramadhan Mahkamah Syar’iyah Aceh adalah seorang Ustadz dari jajaran Kementerian Agama Aceh yang bernama Zulkarnaini, S. Ag., MA. Dalam ceramahnya, Ustadz yang sehari-harinya adalah Kepala KUA Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh ini menyampaikan tentang keutamaan bersedeqah pada bulan Ramadhan.  Ustadz mengutip surat Ali Imran ayat 92 yang artinya : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Menurut Ustadz, agar sempurna ibadah puasa yang dilaksanakan, maka sebaiknya dibarengi dengan berbagi rezeki dengan orang lain. Ustadz mencontohkan, bahwa orang yang memberi buka puasa kepada orang lain akan mendapat pahala puasa    yang sama dengan tanpa menguragi pahala puasa yang menerima buka puasa tersebut. “Saya mengajak kita semua agar berbagi rezeki pada bulan Ramadhan ini terutama kepada fakir miskin dan anak yatim,” kata Ustadz seraya membacakan surat Dhuha ayat 9 – 11.

Ustadz menjelaskan lebih lanjut bahwa apabila orang kaya membagikan sebagian hartanya kepada orang miskin dan anak yatim, baik berupa zakat atau sedekah, maka hartanya akan berkah. Sebab orang yang menerima sedekah akan selalu mendoakan dermawan agar hartanya bertambah dan berkah. “Orang yang selalu memberikan sebagian hartanya kepada orang lain, sesungguhnya hartanya tidak berkurang bahkan bertambah dari sisi berkahnya,” tandas Ustadz.

Indahnya berbagi pada bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalan bulan ibadah yang sangat dianjurkan kepada umat Islam untuk berbuat amal kebajikan sebanyak-banyaknya, karena pada bulan Ramadhan akan dilipatgandakan nilai pahala ibadah. Puasa yang dilaksanakan telah mengajarkan bagaimana perihnya rasa lapar dan haus yang mengandung arti akan penderitaan orang miskin  dan anak yatim. Manakala orang kaya mau berbagi dan mensedekahkan sebagian hartanya kepada orang miskin dan anak yatim, alangkah indahnya bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini. “Alangkah indahnya Ramadhan ini apabila kita mau berbagi dengan orang miskin dan anak yatim,” urai Ustadz dengan senyum.

Ustadz memuji kebiasaan masyarakat yang menyediakan buka bersama di mesjid bagi siapa saja yang datang ke mesjid. Hal tersebut mengisyaratkan betapa indahnya rasa kebersamaan dalam kehidupan ini seolah-olah tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. “Mari kita dukung acara buka bersama di mesjid agar tercipta rasa kebersamaan,” ajak Ustadz.

Ustadz menguraikan keutamaan bersedekah pada bulan Ramadhan salah satu diantaranya adalah mendapat naungan di hari akhirat. Menurut Ustadz, penantian tibanya hari hisab sangat panjang dan lama dan pada hari itu suasananya panas menyengat. “Bagi orang yang selalu bersedekah pada bulan Ramadhan akan mendapatkan naungan,” urai Ustadz.

Ustadz mengingatkan agar jangan sampai pahala sedekah yang melimpah menjadi terhapus sia-sia. Ada tiga hal yang menyebabkan pahala sedekah menjadi hapus :

Pertama, menyebut-nyebut sedekah dengan maksud menunjukkan kelebihan dirinya dibanding dengan orang lain yang diberikan sedekah.

Kedua, menyakiti orang yang diberi sedekah dengan ucapan dan perkataan yang merendahkan kedudukan dan kehormatan orang yang diberi sedekah.

Ketiga, perbuatan riya’, yaitu menampakkan amalnya kepada manusia karena ingin mendapatkan pujian.

“Jangan sampai amal sedekah menjadi hapus pahalanya,” imbuh Ustadz mengingatkan seraya menutup tausiyahnya.

 (AHP)

Read more...

Comment

Ceramah Jum'at | (15/4)

Banda Aceh | ms-aceh.go.id

Sebagaimana biasanya, pada setiap hari Jum’at ba’da shalat Ashar dilaksanakan ceramah agama yang bertempat di mushalla Mahkamah Syar’iyah Aceh. Kegiatan ceramah tersebut dihadiri oleh Ketua, Wakil Ketua, Hakim Tinggi,  pejabat struktural dan fungsional serta pegawai lainnya.

Yang tampil sebagai penceramah pada hari Jum’at tanggal 12 April 2013 adalah Drs. H. Marluddin A. Jalil mantan Hakim Tinggi PTA Banten. Beliau sebelumnya adalah Hakim Tinggi Mahkamah Syar’iyah Aceh lalu mutasi pindah ke PTA Banten dan pensiun pada bulan Maret 2013 yang lalu

“Saya datang ke MS Aceh ini untuk nostalgia dan silaturrahmi dengan Bapak dan Ibu semuanya,” kata H. Marluddin mengawali ceramahnya.

H. Marluddin dalam ceramahnya  menyampaikan agar manusia selalu istiqamah dalam beribadah. Biarpun sedikit amal ibadah yang dilakukan tetapi selalu istiqamah dan konsisten melaksanakannya lebih baik dari pada amal ibadah yang banyak tetapi dilakukan ketika teringat saja.

Ustadz yang awet muda ini mengutip pertanyaan salah seorang sahabat kepada Rasulullah  Saw. Ya Rasulallah, sampaikan kepada saya dan saya tidak bertanyak lagi kepada orang lain. Rasulullah menjawab, bertaqwalah kepada Allah dan selalu istiqamah.

“Jawaban Rasulullah itu pendek tapi dalam maknanya,” tandas H. Marluddin menjelaskan.

Lebih lanjut dijelaskan oleh H. Marluddin bahwa kita terkadang lebih percaya kepada manusia dari pada percaya kepada Allah. Misalnya ketika seseorang sedang sakit. “Orang sakit akan percaya 100% kepada dokter, apapun kata dokter akan dituruti. Apakah iman kepada Allah sudah seperti itu,” kata H. Marluddin dengan nada bertanya.

Ustadz mencontohkan bahwa orang yang selalu melaksanakan shalat Dhuha  akan lapang rezekinya. Orang yang selalu bersilaturrahmi akan panjang umurnya. Tetapi masih banyak yang tidak melaksanakannya, karena kurang percaya dengan ajaran tersebut.

Ustadz mengajak jamaah mencontoh sikap petani yang selalu istiqamah dalam pekerjaannya. Kalaupun pada musin tanam ini petani gagal panen karena ada serangan hama atau karena sebab lain, petani akan tetap bercocok tanam pada musim tanam berikutnya. “Mari kita contoh sikap petani yang selalu istiqamah dalam pekerjaannya,” kata H. Marluddin mentamsilkan.

Disisi lain, Ustadz mengingatkan jamaah agar istiqamah dengan rasa takut akan siksa dan azab dari Allah Swt. Terhadap semua pekerjaan yang dilarang oleh Allah akan mendapatkan sisa dan azab yang pedih. Ustadz mencontohkan, bahwa manusia selalu istiqamah akan takut terhadap sengatan listrik karena berbahaya dan mengancam jiwa.  Semestinya manusia harus istiqamah dan selalu takut siksa Allah, oleh karenanya manusia selalu istiqamah menjauhi larangan Allah.

“Kita harus istiqamah merasa takut akan siksa Allah, oleh karena itu jangan kita lakukan apa saja yang dilarang oleh Allah,” tutur H. Marluddin mengingatkan.

Ceramah agama yang berdurasi lebih kurang 20 menit tersebut sangat berkesan bagi jamaah, disamping mendapat bimbingan rohani sekaligus dapat bertatap muka dengan Ustadz yang selama bertugas pada MS Aceh selalu gembira dan ceria dengan sesama pegawai.

“Saya teringat kembali ketika Pak H. Marluddin masih bertugas disini, beliau ini orangnya gembira dan tidak membeda-bedakan orang, dengan siapa saja beliau mau berteman,” kata Hasanuddin Abbas mengenang saat H. Marluddin menjadi Hakim Tinggi pada MS Aceh.

(AHP)

Read more...

Comment

ceramah agama setelah shalat Zuhur di mushalla Mahkamah Syar’iyah Aceh | (09/08)

Banda Aceh | ms-aceh.go.id

Memasuki hari kesembilan belas pelaksanaan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan 1433 H, kegiatan ceramah agama setelah shalat Zuhur di mushalla Mahkamah Syar’iyah Aceh menampilkan penceramah Drs. H. Abdul Muin A. Kadir, SHyang sehari-harinya adalah Hakim Tinggi. Ustadz kita ini menyampaikan dalam ceramahnya bahwa nanti di akhirat manusia terbagi menjadi 2 (dua) golongan, yaitu manusia yang tidak gentar menghadapi berbagai siksaan dari Allah seperti neraka, mizan dan lain sebagainya, bahkan ingin segera menemui Tuhannya dan manusia yang akan mendapat siksaan dari Tuhan dan mereka tidak diperhatikan oleh Allah.

Menurut H. Abdul Muin, orang yang tidak takut dan tidak gentar menghadapi Tuhan adalah orang yang datang menemui Tuhannya dengan  berbagai amal ibadah yang dilaksanakannya selama hidup di dunia. Sedangkan orang yang akan mendapat siksa dan tidak ada yang memperhatikan kepedihan siksa yang mereka hadapi adalah orang yang penuh dosa dan maksiat selama hidup di dunia. “Beruntunglah orang yang beriman dan selama hidupnya di dunia ini dia selalu beramal saleh, mereka tidak takut dan tidak gentar terhadap berbagai azab bahkan mereka ingin segera menemui Tuhannya. Dan merugilah orang yang selama hidupnya di dunia ini penuh dengan dosa dan maksiat karena mereka akan menghadapi siksaan yang sangat pedih dan tidak diperhatikan oleh Allah”, kata H. Abdul Muin yang aktif berbahasa Inggris.

H. Abdul Muin yang baru bertugas di Mahkamah Syar’iyah Aceh sejak 1 Agustus 2012 dan sebelumnya adalah Hakim Tinggi pada PTA Medan menjelaskan bahwa kehidupan manusia di dunia ini ada 4 (empat) golongan, yaitu :

Pertama, orang yang mendapat nikmat, misalnya banyak harta, menduduki jabatan yang empuk, mempunyai anak dan lain lain dan  dia taat kepada Allah, baik hablum minallah, maupun hablum minannas. Nikmat yang diberikan Allah kepadanya dipergunakannya untuk taqarrub ilallah, jabatan yang diperolehnya dilaksanakannya dengan amanah dan anak-anaknya menjadi anak yang saleh.

Kedua, orang yang tidak mendapatkan nikmat, hidupnya serba susah tetapi dia taat kepada Allah. Kemiskinan dan kesusahan hidup dia hadapi dengan tabah dan sabar serta tawakkal kepada Allah serta selalu berusaha keras untuk memperbaiki kehidupannya ke arah yang lebih baik. Di tengah serba susah dan sulit yang menjadi bagian kehidupannya sehari-hari, dia tidak lupa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, dia taat kepada Allah, dia menjaga hablum minallah dan hablum minannas.

Ketiga, orang yang mendapat nikmat, baik berupa jabatan, harta yang banyak, pendidikan yang tinggi, semua anaknya sarjana dan lain-lain, tapi dia maksiat kepada Allah. Nikmat yang diberikan Allah kepadanya tidak pernah disyukurinya bahkan membuat dia semakin jauh dari Allah. Dia hidup dalam kemewahan dan tidak pernah berbagi kepada orang lain.

Keempat, orang yang hidupnya melarat, serba susah, dan dia maksiat kepada Allah. Kemiskinan yang selalu menghimpitnya justru membuatnya semakin jauh dari Allah.

Ustadz H. Abdul Muin menjelaskan, bahwa dua golongan yang pertama tidak ada rasa takut dan gentar berjumpa dengan Allah. “Orang yang selalu taat kepada Allah, baik hidupnya mendapat nikmat maupun hidupnya melarat akan mendapat ridha dari Allah dan dia akan selamat dari segala macam siksa di akhirat”, ujar Ustadz yang murah senyum ini.

Bagi mereka yang tidak taat kepada Allah akan mendapatkan siksa yang sangat pedih. “Dua golongan yang terakhir, yaitu tidak taat kepada Allah, baik hidupnya mendapat nikmat maupun hidupnya melarat akan masuk neraka dan Allah tidak akan perduli terhadap siksa yang mereka terima”, kata H. Abdul Muin. Lalu beliu bertanya kepada jamaah, “dimana posisi kita, apakah termasuk yang taat kepada Allah atau yang selalu berbuat dosa”, tanya Ustadz yang dijawabnya sendiri, hal tersebut terpulang kepada kita masing-masing dan Ustadzpun menutup tausiyahnya.

(H. Abd. Hamid Pulungan)

Read more...

Comment

Subscribe to this RSS feed
Banner_Ucapan_Idulfitri1443.jpg KMS_Baru_2022.png Waka_MA.jpg YM_KMA.png lapor.png maklumat_pelayanan.jpg sekretaris_MA.jpg

HUBUNGI KAMI

Mahkamah Syar'iyah Aceh

Jl. T. Nyak Arief, Komplek Keistimewaan Aceh

Telp: 0651-7555976
Fax: 0651-7555977

Email :

ms.aceh@gmail.com

hukum.msaceh@gmail.com

kepegawaianmsaceh@gmail.com

jinayat.msaceh@gmail.com

LOKASI KANTOR

Mahkamah Syar'iyah Aceh © 2019